Berita Kampus

Berita : umum / Din Syamsuddin: Sains Percuma Jika Hampa Makna

Din Syamsuddin: Sains Percuma Jika Hampa Makna


Malang - Salah satu akar di balik terjadinya berbagai kerusakan global di dunia ini yaitu paradigma pengembangan sains yang tidak mengindahkan nilai-nilai etis, spiritual dan kebermaknaan. Demikian pernyataan presiden moderator Asian Conference of Religion Peace (ACRP) Din Syamsuddin saat menjadi pembicara pada The 1st International Conference on Pure and Applied Research (ICoPAR) yang berlangsung Sabtu kemarin (22/8) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Menurut Din, paradigma sains hendaknya diarahkan pada nilai-nilai kemaslahatan. Ilmu ekonomi, lanjut Din, pastinya dimanfaatkan untuk mengatasi kemiskinan, demikian pula ilmu politik, mestinya diniatkan untuk mewujudkan keadilan. “Kalau politik melanggengkan oligarki, berarti politiknya tidak bernilai, hampa makna,” ujar Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini.

Untuk itulah, Din menilai, yang terpenting dari sains adalah bagaimana kebermaknaan dan nilai-nilai yang dikandungnya. Dalam konteks pembangunan, kata Din, jika dunia banyak berbicara tentang sustainable development with equity (pembangunan berkelanjutan yang berkeadilan), maka Islam senantiasa mengajak pada paradigma sustainable development with meaning (pembangunan berkelanjutan yang bermakna).

Paradigma tersebut, papar Din, berakar pada prinsip-prinsip sains Islam yang di antaranya yaitu harmoni dan korespondensi antara dimensi Tuhan dan alam semesta, atau lebih tepatnya dimensi Sang Pencipta dan yang dicipta. Tidak mungkin manusia dan alam semesta bekerja tanpa mengindahkan nilai-nilai etis-spiritual ketuhanan.

Terkait pengembangan sains, Din menegaskan, Islam merupakan agama yang sangat menekankan pentingnya berpikir. Tak heran, dalam al-Quran banyak terdapat ayat-ayat yang diakhiri dengan kata-kata afala ta’qilun (apakah kamu tidak berakal), afala tatafakkarun (apakah kamu tidak berpikir) atau afala yatadabbarun (apakah mereka tidak merenung).

Bagi Din, petikan kata-kata tersebut merupakan sindiran yang bermaksud memerintahkan manusia agar senantiasa berpikir, merenung serta menggunakan akalnya. Din bahkan menyebut bahwa dalam al-Quran pertanyaan retoris seperti di atas disebut tidak kurang dari 200 kali, yang sekaligus menunjukkan betapa pentingnya berpikir.

Nilai-nilai tersebut, kata Din, dalam sains diterjemahkan dalam bentuk penelitian dan pengembangan (research and development). “Sayangnya di Indonesia riset sulit berkembang karena terkendala budget yang minim. Padahal, hal ini sangat krusial, terutama bagi dunia kampus,” ungkap mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah ini. (han)


Tags: muhammadiyah, umm, sains, internasional, malang,

di posting oleh admin pada tanggal 2015-08-26 05:27:00

kategori : umum

 
total berita : 11


peta situs | hubungi kami |